Dilema Update Blog, Kualitas atau Kuantitas?

qualityvsquantity

Setiap blogger pasti punya keinginan dan target dalam mengupdate blognya. Namun apakah semua target2 tersebut telah terpenuhi dengan baik? Berapa banyak diantara kita yang telah memenuhi target tersebut? Saya yakin, pasti tidak sebanding dengan kenyataan :mrgreen:

Walaupun begitu, setiap blogger pasti memiliki caranya sendiri. Dan dari sekian banyak cara yang beredar, secara garis besar ada 2 tipe seorang blogger dalam update blognya, yang pertama blogger yang mengutamakan kualitas, dan yang berikutnya blogger yang mengutamakan kuantitas. Lantas, mana yang lebih baik diterapkan bagi blogger?

Blogger yang mengutamakan Kualitas

Kualitas disini saya artikan sebagai sebuah artikel yang berbobot, dan untuk membuatnya diperlukan skill, keahlian, dan ketelitian. Blogger macam ini, biasanya lebih jarang untuk update blognya daripada blogger yang mengutamakan kuantitas / jumlah. Mereka jarang untuk membuat, karena untuk membuatnya, harus teliti dan ada sumber yang menguatkannya. Selain jarang dalam update, bogger macam ini biasanya juga jarang blog walking, disebabkan karena untuk membuat artikel yang berbobot itu lama, sehingga banyak waktu yang tersita.

Walau begitu, artikel yang dibuat biasanya lebih berguna dan bermanfaat. Sekalipun komentarnya lebih sedikit dibanding dengan tipe yang satunya (* karena jarang blogwalking ). Beberapa contoh artikel yang mengutamakan kualitas seperti artikel Tips, Tutorial, Trick, Inspirasi, Motivasi dsb.

Blogger yang mengutamakan Kuantitas

Blogger tipe satu ini, dia lebih suka dalam membuat artikel instan. Walau tidak berbobot, dia terus update blognya setiap saat, tanpa bobot yang jelas. Untuk membuat artikel tersebut, mereka tidak dituntun untuk memiliki sebuah skill atau kemampuan. Sehingga mereka bisa membuat banyak artikel, walaupun belum tentu ada manfaatnya bagi orang yang membacanya.

Biasanya blogger macam ini, lebih punya banyak waktu untuk blogwalking, (* jika benar2 niat ), sehingga teman2 akan datang lewat feedback / komentar balasan, dari blog orang lain. Contoh artikel dengan mengutamakan kuantitas, yaitu sebuah artikel biasa yang isinya tentang, curhatan, cerita diri sendiri, cerita pengalaman, dsb. Artikel semacam ini lebih mudah dan lebih cepat dibuat.

Jadi mana yang lebih baik

Baik kualitas maupun kuantitas, sebenarnya tidak ada mana yang lebih bagus, mana yang buruk. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya sendiri, tinggal bagaimana cara menyeimbangkannya. Mungkin anda bisa membuat sebuah jadwal atau rencana, tentang artikel yang akan ditulis. Jadi tulisan akan seimbang antara sisi kualitas maupun kuantitas. Tapi biasanya sukar sekali untuk menyeimbanginya, pasti ada yang lebih dominan. Untuk itu, buatlah rencana, agar lebih tertata update blognya.. :D

Jujur aja, saya sendiri masih dilanda dilema, kalo dilihat, kelihatanya saya lebih mengutamakan kualitas.. bagaimana dengan anda? :mrgreen:

Sources
http://blog.rockthepost.com/wp-content/uploads/2012/02/qualityvsquantity.jpg

Category: Information
23 tanggapan pada “Dilema Update Blog, Kualitas atau Kuantitas?” { + }
  1. iskandaria berkata

    Kalau saya sendiri sebenarnya selalu berusaha menyelipkan unsur ‘kualitas’ dalam tulisan-tulisan atau postingan blog saya. Nilai informasi tetap saya upayakan ada, walaupun isinya cuma curhatan. Kalau masalah frekuensi update, saya bukan tergolong yang sering update sih. Tapi saya tetap salut pada mereka yang walaupun sering mengupdate konten blognya, namun tetap berusaha mengutamakan kualitas, walaupun makna berkualitas itu banyak yang bilang relatif ;)

    Walau relatif, pasti tetap ada patokan umumnya.

    • dery berkata

      Wahh, berhubung saya termasuk orang yang lama dalam menulis, setiap kali saya membuat artikel pasti harus didasarkan pada referensi2 tertentu atau pengalaman saya sendiri.. beberapa artikel diantaranya bisa berupa buah pemikiran juga, yang hanya berlandaskan apa yang saya pikirkan..
      nah, untuk melakukan blogwalking sendiri, waktu jadi terkuras, apa lagi banyak kerjaan di dunia nyata juga..
      untuk masalah kualitas, saya setuju kalo itu relatif, bisa relatif untuk yang membaca maupun si penulisnya.. tergantung dari sudut mana kita melihatnya..

  2. Darin berkata

    Kalau saya tetap mengutamakan kualitas, karena memang itulah satu-satunya jalan untuk mendatangkan pengunjung. Namun jangan lupa juga kuantitas, karena blog yang tak terupdate sama saja dengan blog yang mati, dan membuat pengunjung loyal segan berkunjung kembali. Tapi tentu saja kalau SEO-nya bagus, pengunjung masih banyak yg datang dr mesin pencari.

    Jadi, menurut saya sih buat dulu jadwal publish blog yang realistis. Misal seminggu sekali, dan isi dgn artikel berkualitas. Setelah ritme itu berjalan dan kemampuan menulis sdh oke, baru deh meningkat jadi 2 kali seminggu. Setelah lancar, naik lagi, begitu seterusnya.

    Idealnya, blog itu terupdate tiap hari. Tapi tentu ada perjalanan dulu di belakangnya untuk mewujudkan hal itu bukan? Dan saran di atas tadi patut dicoba, karena itu jg yg sering dianjurkan oleh para problogger :)

    Semangat mas Dery! :)

    • dery berkata

      oke mas, saya sebenarnya lebih condong ke kualitas, tapi sepertinya cacat kalo tidak di imbangi dengan kuantitas..
      kalo kita sudah memiliki patokan, kapan kita update, itu bisa merangsang untuk tetap stabil dalam masalah kuantitas,, seandainya yang di fokuskan cuma kualitas, kita tidak memiliki patokan berapa kali update, jadinya kita jadi malas untuk update.. :D

  3. Ijal Fauzi berkata

    Saya juga mengalami dilema yang sama mas, antara kualitas dan kuantitas, bukan hal yang mudah untuk bisa menyeimbangkannya. Tapi saya kurang setuju dengan pernyataan :

    “Contoh artikel dengan mengutamakan kuantitas, yaitu sebuah artikel biasa yang isinya tentang, curhatan, cerita diri sendiri, cerita pengalaman, dsb. Artikel semacam ini lebih mudah dan lebih cepat dibuat ”

    Saya rasa, artikel yang berisi tentang curhatan ataupun pengalaman pribadi tidak serpeti yang anda tulis. Karena semua tergantung dari si penulis itu sendiri, justru dari artikel yang berisi tentang pengalaman pribadi ataupun curhat, sering tersirat nilai-nilai yang bermanfaat bagi pembaca. Karena dengan demikian, pembaca bisa menarik kesimpulan dari apa yang telah dibacanya.

    • dery berkata

      Itu cuma contoh saja mas.. sebagian besar yang saya lihat, artikel yang mengutamakan kuantitas tidak memandang pesan tersirat bagi si penulisnya, walau pembaca mungkin dapat mengambilnya. Tapi apakah yang dibuat penulis tersebut sesuai dengan tujuannya? Mungkin saja si penulis tidak tahu pesan tersiratnya..
      Memang beberapa contoh yang saya singgung diatas tidak absolut benar semua, saya mengambil contoh seperti diatas karena memang knyataannya yang ada begitu, beberapa contoh diatas mungkin ada, yang bukan bermaksud menulis dengan tujuan kuantitas semata, tapi juga ingin memberi manfaat kepada pembacanya. Sebgai contoh untuk soal pengalaman yang saya masukan dalam golongan kuantitas, hal ini bukan berarti semua artikel pengalaman merupakan kuantitas, bisa saja pengalaman yang ditulis memang ia benar2 niat agar tulisannya tersebut berkualitas, maka ia akan menggali semua yang ada dalam pengalamannya tersebut agar lebih berkualitas.. lalu saya ambil contoh lagi untuk soal tutorial yang saya masukan kedalam kualitas, saya yakin beberapa artikel tutorial mungkin hanya mengandalkan kuantitas saja, jadi tutorial yang ditulis hanya mengejar jumlah artikel saja.. saya berani menulis contoh2 diatas karena kategori2 tersebut memang dominan di golongannya.. jadi tidak selamanya contoh diatas tersebut adalah benar.. :mrgreen:

    • Ijal Fauzi berkata

      Iya, tapi mungkin lebih baik contoh real yang lebih dominan adalah artikel yang sudah jelas copy-paste, itu lebih nyata ketimbang blog yang berisi pengalaman pribadi, karena saya juga merasa tersinggung jika dibilang seperti itu, ya meski terkadang memang ada juga pengalaman yang tidak penting tetapi dibahas, tapi saya tetap mencobanya dengan bahasa yang menarik dan interaktif. >.<

  4. tomi berkata

    kalau saya yang penting nulis dan temanya yg ringan tapi sedikit berkualitas mas :)
    makasih bannernya ya masbro

    • dery berkata

      ini yang namanya hampir seimbang, tapi alangkah baiknya sering diupdate dengan kualitas yang tinggi pula, hehe..

  5. Hanif berkata

    berkualitas tapi jarang diupdate percuma mas, kalau instan2 tapi artikelnya gak punya bobot juga sama percumanya, yang hebat kalau berkualitas dengan update rutin. dan itu juga masih sulit saya terapkan. hehe.

    • dery berkata

      betul mas, saya juga masih susah dalam menyeimbangkan keduanya.. pasti ada salah satu yang harus mengalah..

  6. Faisal berkata

    Kalau saya sebisa mungkin membuat artikel yang berkualitas di blog saya karena nilai utama dari sebuah blog menurut saya adalah konten yang berkualitas. Selain itu juga seharusnya memang harus memperhatikan kuantitas juga biar seimbang. Walaupun memang untuk saat ini untuk urusan kuantitas saya masih belum bisa penuhi di blog saya, masih kesulitan. Semoga aja ke depannya kita para blogger bisa memberikan konten yang berkualitas juga sering update.

    Salam. :)

    • dery berkata

      salam kembali mas..
      sedikit2 asal ada kemajuan pasti bisa kok mas, untuk memulai itu memang sulit, tapi kalo kita ga memulai, kapan kita mau maju.. terobos aja dah.. walaupun sekarang belum berkualitas, besok harus sedikit berkualitas, lusa harus berkualitas, hari berikut harus berkualitas sekali, dst.. :D
      masalah kuantitas, kita harus membuat jadwal2 dan target2 dan harus konsisten dengan hal tersebut, apapun yang terjadi.. karena jika kita mengingkari rencana yang kita buat sendiri itu sama artinya dengan kita mengingkari janji diri sendiri,, keep spirit!!!

  7. die berkata

    Yang paling baik (menurut saya) seimbang antara kualitas dan kuantitas. Alangkah bagusnya sebuah blog jika sering update tetapi memiliki kualitas yang sangat baik. Sering update belum tentu kualitasnya jelek. Jarang update belum tentu tulisannya berkualitas.
    Aku lebih senang dengan blog-blog yang bisa menyajikan artikel yang berkualitas tetapi disajikan dengan bahasa yang renyah, berkualitas tetapi bahasanya susah dicerna malah menjadi tidak berkualitas.
    Berkualitas berarti berguna dan tidak harus disajikan dalam bahasa teknis yang bikin mumet. Sederhana, simple dan mudah dicerna seperti yang Dery tulis, menurut aku sudah menunjukan kualitas.

    • dery berkata

      hmm.. begitu ya mas. Memang sangat susah untuk membuat artikel berkualitas dimata pembaca, sekaligus menyeimbangkan dengan kuantitas..
      kalaupun ada, mungkin full time blogger tuh, hhehe..
      Tujuan kita membuat artikel kan agar informasi dapat tersampaikan kepada pembaca, tentunya harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami juga. Nah, disinilah tantangannya..

  8. Leo Ari Wibowo berkata

    Yang ideal, kuantitas dan kualitas harus sejalan kalau ingin mendapatkan hasil maksimal. Tapi dalam menjalankannya memang susah ya?

    • dery berkata

      perlu target2, dan untuk membuatnya harus benar2 niat mas.. pasti bisa, walau saya sendiri belum bisa seperti itu, hehe..

  9. Aryo Seno berkata

    Kalo saya sebagai hobi aja mas, sekaligus menambah teman pas blogwalking

  10. papap arfa berkata

    hehe dilema juga mas bener..
    kalau untuk menulis sebuah tulisan original yang berkualitas memang membutuhkan waktu, apalagi di rumah kondisinya ga kondusif ada anak dan istri karena saya g bs nulis kalau suasananya ga tenang :D
    tapi saya mulai rajin posting sih untuk blog saya karena saya belum berani bikin personal blog lagi karena takut nyampur bahasannya hehe g konsisten :D
    salam kenal mas..

Tinggalkan balasan

Untuk menampilkan foto atau gambar anda pada komentar, silahkan registrasi dulu di Gravatar.
Saya tidak menjawab komentar yang tidak membutuhkan jawaban. :)